Renungan Rabu, 31 Mei 2017

Keluaran 19:9-25

Tuhan memandang ibadah kita di hadapan-Nya dengan sangat serius, dan Dia menghendaki kita menghargai dan menghormati saat-saat kita bertemu dengan-Nya. Dalam bagian kedua dari Keluaran 19 tercatat secara detail apa yang Tuhan inginkan dalam persiapan-persiapan yang harus dilakukan oleh umat Israel sebelum mereka bertemu dengan Tuhan di Gunung Sinai.

Dalam pertemuan itu, dikatakan bahwa Tuhan akan datang kepada Musa dalam awan yang tebal, dan Tuhan menghendaki umat Israel mendengar apa yang Dia sampaikan kepada Musa. Tujuan Tuhan melakukan semuanya ini adalah supaya umat Israel percaya bahwa Musa benar-benar utusan Allah dan mewakili Allah memimpin umat Israel menuju ke tanah perjanjian.

Mengapa Tuhan perlu melakukan semuanya itu? Karena Tuhan tahu akan kekerasan hati umat Israel, mereka tidak mudah mempercayai kepemimpinan Musa, sehingga Tuhan memakai cara yang khusus ini untuk meyakinkan umat Israel.

Sebelum mereka menghadap Tuhan, mereka harus menguduskan diri selama dua hari, bukan hanya menguduskan diri, mereka juga harus mencuci pakaian mereka. Setelah itu barulah pada hari ketiga Tuhan akan turun di depan mataseluruh bangsa itu di gunung Sinai.

Tuhan juga menghendaki Musamemasang batas bagi bangsa itu supaya mereka jangan mendaki gunung itu atau kena kepada kakinya, sebab siapapun yang kena kepada gunung itu, pastilah ia dihukum mati.

Umat Israel memang diizinkan mendaki gunung itu, tetapi harus sesuai dengan waktu yang ditentukan Tuhan, yaitu dengan bunyi sangkakala yang panjang sebagai tandanya.

Tuhan juga ingin kita menguduskan diri, supaya kita layak menghadap Dia, baik pada waktu kita beribadah kepada-Nya secara kolektif di gereja, maupun pada waktu kita menyembah Dia secara pribadi dalam saat teduh maupun doa pribadi kita. Dengan demikian ibadah kita akan menjadi dupa yang harum yang menyenangkan Dia.

Renungan Selasa, 30 Mei 2017

Keluaran 19

Sudah tiga bulan umat Israel keluar dari tanah Mesir, dan mujizat demi mujizat mereka alami dalam perjalanan mereka selama ini. Lalu Tuhan menyuruh Musa mengingatkan kepada umat Israel akan apa yang telah Tuhan lakukan dalam kehidupan mereka. Dikatakan bahwa Tuhan mendukung mereka di sayap rajawali dan membawa kamu kepada-Nya.

Saudara, secara sadar atau tidak, Tuhan juga senantiasa mendukung kita di sayap rajawali dan membawa kita semakin dekat kepada-Nya. Apabila kita melihat ke belakang, melihat pengalaman dan kehidupan yang kita lalui, kita menyaksikan begitu banyak hal yang kelihatan mustahil telah terjadi di dalam kehidupan kita. Banyak hal yang melampaui kekuatan dan kemampuan kita untuk menjangkaunya telah Tuhan lakukan di dalam dan melalui kita.

Umat Israel juga demikian, mereka mengalami begitu banyak perbuatan ajaib di dalam Tuhan memimpin mereka keluar dari tanah Mesir. Dan setelah mengingatkan mereka akan karya Tuhan yang ajaib itu, Tuhan berjanji kepada mereka, “Jadi sekarang, jika kamu sungguh-sungguh mendengarkan firman-Ku dan berpegang pada perjanjian-Ku, maka kamu akan menjadi harta kesayangan-Ku sendiri dari antara segala bangsa, sebab Akulah yang empunya seluruh bumi.”

Menjadi harta kesayangan Tuhan sendiri di antara segala bangsa. Suatu status yang sangat istimewa yang Tuhan akan berikan kepada umat Israel, dengan catatan jika mereka sungguh-sungguh mendengarkan firman Tuhan dan berpegang pada perjanjian Tuhan. Hari ini kita sebagai Israel yang baru, kita juga menjadi harta kesayangan Tuhan sendiri di antara segala bangsa, dan permintaan Tuhan tetap sama, yaitu mendengarkan firman Tuhan dan berpegang pada perjanjian Tuhan.

Sebagai harta kesayangan Tuhan, umat Israel akan menjadi bagi Tuhan kerajaan imam dan bangsa yang kudus. Imam adalah seorang yang menjadi perantara antara Allah dan manusia. Dalam perjanjian lama, hanya imam sajalah yang diizinkan untuk menyelenggarakan ibadah di Kemah Suci.

Kerajaan imam adalah suatu kerajaan yang yang dipilih Tuhan secara khusus untuk menjadi perantara antara Allah dengan bangsa-bangsa lain di dunia. Hal ini juga merupakan penggenapan janji Tuhan kepada Abraham yang berbunyi: “Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat.” (Kej. 12:2). Abraham diberkati dan menjadi berkat. Abraham menjadi saluran berkat Allah kepada semua orang. Demikian pula sebagai keturunan Abraham, umat Israel juga terpanggil sebagai suatu bangsa yang diberkati supaya menjadi berkat bagi bangsa-bangsa lain.

Hari ini Tuhan juga memanggil kita menjadi perantara antara Allah dan manusia, Petrus mengingatkan kita: “Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib.” (I Pet 2:9). Kiranya Tuhan menolong kita dengan setia menunaikan tugas dan panggilan kita sebagai saluran berkat Allah bagi umat manusia yang ada di sekitar kita, melalui memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Allah, yaitu keselamatan di dalam Tuhan kita Yesus Kristus, yang memanggil kita keluar dari kegelapan ke dalam terang-nya yang ajaib.

Renungan Sabtu, 27 Mei 2017

Keluaran 18:13-27

Pertemuan antara Musa dan Yitro, mertua Musa membawa berkat besar dalam kepemimpinan Musa. Pada waktu Yitro melihat Musa duduk mengadili bangsa yang berdiri di depannya dari pagi sampai petang, dia merasa cara yang demikian sangat tidak efektif dan efisien. Baik Musa maupun bangsa Israel akan menjadi sangat lelah.

Maka dia mengusulkan agar mencari dari seluruh bangsa itu orang-orang yang cakap dan takut akan Allah, orang-orang yang dapat dipercaya, dan yang benci kepada pengejaran suap; dan menempatkan mereka di antara bangsa itu menjadi pemimpin seribu orang, pemimpin seratus orang, pemimpin lima puluh orang dan pemimpin sepuluh orang.

Musa adalah seorang yang rendah hati, walaupun dia telah mengalami karya Allah yang ajaib, dan Allah telah memakai dia dengan luar biasa menaklukan Firaun dan memimpin umat Israel keluar dari tanah Mesir. Namun dia tetap dengan rendah hati mendengarkan usul dan nasihat mertuanya, serta menuruti apa yang dikatakannya. Adakalanya ada orang seolah-olah mendengar, tetapi tidak dilakukan, Tetapi Musa tidak demikian, dikatakan dalam ayat 24: “Musa mendengarkan perkataan mertuanya itu dan dilakukannyalah segala yang dikatakannya.”

Sikap rendah hati Musa membawa berkat besar dalam kepemimpinannya, dan merupakan strategi yang sangat membantu dalam dia memimpin umat Israel selama 40 tahun berikutnya. Seorang pemimpin yang baik, adalah seorang yang mengerti bagaimana membina dan mengkader rekan-rekan kerja, supaya berkerja sama menunaikan tugas dan tanggung-jawab yang diterimanya.

Yitro telah mengajarkan strategi yang sangat membantu kepada Musa, sehingga semua orang boleh terhindar daripada kecapaian. Musa dan umat Israel tidak perlu menghabiskan waktu dari pagi sampai petang, dikatakan dalam ayat 25 dan 26 bahwa setelah memilih orang-orang cakap dan mengangkat mereka menjadi kepala atas bangsa itu, menjadi pemimpin seribu orang, pemimpin seratus orang, pemimpin lima puluh orang dan pemimpin sepuluh orang. Makan mereka ini mengadili di antara bangsa itu sewaktu-waktu; perkara-perkara yang sukar dihadapkan mereka kepada Musa, tetapi perkara-perkara yang kecil diadili mereka sendiri.

Perhatikan istilah sewaktu-waktu, tadinya mereka harus berdiri dari pagi sampai petang, tetapi sekarang mereka melakukannya sewaktu-waktu, karena tugas yang tadinya hanya dilakukan oleh Musa seorang diri, kini telah dilakukan oleh banyak orang, sehingga masalah mereka juga dapat diselesaikan dengan lebih cepat dan tuntas, sehingga mereka hanya mengadili rakyat sewaktu-waktu saja.

Kiranya Tuhan menolong kita, dengan hikmat kita membagi tugas agar supaya pelayanan kita menjadi semakin efektif dan efisien.